Inilah cara pasar properti ritel Jakarta berkembang

Toko konsep baru semakin berkembang seiring dengan semakin beragamnya komposisi penyewa.

Sejak kuartal ketiga 2025, pemilik mal di Jakarta terus menyesuaikan ruang mereka mengikuti permintaan konsumen yang terus berkembang, dengan fokus kuat pada pemeliharaan dan peningkatan tingkat okupansi.

Menurut data dari laporan Colliers, tingkat okupansi keseluruhan berada sekitar 74% di Jakarta dan 69% di Jakarta Raya.

Berikut ini lebih lanjut dari Colliers:

Pusat perbelanjaan segmen premium dan menengah-atas di Jakarta dan Jabodetabek terus tampil kuat, mempertahankan pengisian hingga mendekati 90%. Pusat perbelanjaan ini memperoleh manfaat dari basis penyewa yang telah mapan, termasuk merek internasional dan luxury, yang secara konsisten menarik pembeli yang berkecukupan. Permintaan yang terus-menerus terhadap pengalaman ritel yang unggul telah membantu segmen ini mempertahankan ketahanannya. Sebaliknya, pengisian pusat perbelanjaan segmen menengah hingga bawah tetap rendah, rata-ratanya sekitar 60%.

Beberapa toko departemen di Jakarta mengurangi ukuran, mengalokasikan ruang kepada merek baru untuk memperbarui komposisi penyewa. Strategi ini memenuhi kebutuhan retailer yang menunggu antrian, meningkatkan variasi, dan mendukung peningkatan jumlah pengunjung. Bagi pemilik gedung, membagi ruang besar anchor menjadi beberapa penyewa gaya hidup dan spesialis telah terbukti sebagai strategi adaptasi yang efektif—menciptakan keragaman, meningkatkan pendapatan sewa, dan memperkuat kompetitifitas.

Contoh-contohnya termasuk Matahari Department Store di Blok M Plaza yang mengurangi luas areanya untuk menampung SUKO dan zes; SEIBU di Pondok Indah Mall yang mengalokasikan ruang untuk Sephora; dan Lotte Department Store di Lotte Mall Jakarta yang menyusutkan ukurannya untuk memperkenalkan merek-merek seperti Decathlon dan Dekoruma.

Pengusaha ritel Asia, khususnya dari Tiongkok, tetap antusias untuk masuk ke pasar ritel Jakarta, tertarik oleh reputasi kota tersebut sebagai penggerak tren gaya hidup di kalangan konsumen muda. Pemilik bangunan diperkirakan akan terus mengatur keseimbangan komposisi penyewa dan strategi zonasi untuk memastikan bahwa peserta baru melengkapi penjual yang sudah ada, menghindari kejenuhan sambil memperkaya lingkungan belanja.

Tingkat okupansi diperkirakan akan meningkat secara bertahap seiring mall beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Mall premium yang berlokasi strategis kemungkinan besar akan mempertahankan tingkat okupansi yang stabil atau sedikit lebih tinggi, sementara mall yang kinerjanya kurang baik akan fokus pada diversifikasi dan penyesuaian operasional untuk mendorong peningkatan dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *